Cara mudah mengurus kartu NPWP yang hilang

Selama ini saya kira, semua kartu hilang itu butuh surat keterangan kehilangan dari kepolisian. Bikinnya sih gratis, tapi kadang-kadang ada kebijaksanaan ceban (Rp10 ribuan).  Kadang-kadang enggak diminta, cuma kalo kita kasih mereka ga nolak juga. Jadi, yang keliru sebetulnya siapa? 😀

Anyway, kehilangan kartu NPWP sebetulnya cukup merepotkan. Bukan buat traveling sih, toh skrg enggak perlu lagi kok bayar -apa ya dulu namanya yang sampe 1 jutaan itu-. Tapi, permohonan untuk buka rekening reksadana ataupun saham, butuh copy NPWP. Makanya pas hilang, aduh! Bakalan repot deh.

Karena terbayang harus ke kantor polisi dulu untuk urus surat keterangan hilang, jadilah urusan NPWP ini kepending lama. Mulur terus. Jadinya harga unit reksadana inceran udah ga ideal lagi. T_T

Barulah tergerak ngurus NPWP. Masa gara-gara administrasi ga rapi saya jadi ga bisa investasi? Rugi lah…

Telepon kring pajak 52000, tanya syarat-syarat urus NPWP yang hilang. Dan ya ampun… ternyata bisa langsung ke KPP terdekat trus isi formulir minta cetak ulang. Syaratnya bawa copy KTP saja.  Hadeh…! Inilah akibatnya jika sibuk main asumsi. Sotoy.

Esoknya saya ke KPP Tebet, yang terdekat dengan rumah. Dan betul, cuma isi formulir lalu tunggu. Kartu NPWP baru pun bisa langsung jadi. Sip lah!

Enggak pede resign? Masa sih?

Jika ibu bekerja kantoran demi mendapatkan tambahan pemasukan untuk keluarga, apakah gaji yang ia dapatkan betul-betul bisa jadi tambahan? Atau hanya sedikit bersisa dari keperluan membayar asisten rumah tangga untuk jaga anak, bayar transportasi, bayar makan siang dan jajan serta beli baju untuk penampilan layak?


 

Dari sebuah toko diskon, saya membeli buku Ellie Kay berjudul “1/2 price living” (dengan diskon 50%)  yang sudah diterjemahkan ke Bahasa Indonesia oleh Gramedia. Ini buku lama sih. Saat melihatnya di rak, saya baru nyadar ada buku ini. Kayaknya kok jarang lihat.

Kay beken gara-gara Oprah. Keahliannya ialah berhemat gila-gilaan tapi tetap bisa hidup nyaman dan masih bisa traveling bersama tujuh anak. Iya, dia punya 5 anak kandung dan 2 anak tiri yang semuanya hidup dalam petualangan seru bersama ibu mereka dan si ayah. Suami Kay ialah pilot pesawat tempur AS.

Sebelumnya, Kay tak pernah terpikirkan jadi ibu rumah tangga. Dari kecil, Kay  senang ‘make money’. Saat masih bocah dia beli permen dalam jumlah besar lalu dijual dengan untung 40% per butir kepada teman-teman di sekolahnya. Saat lulus kuliah, ia bekerja sebagai trader saham di wall street. Ia punya cita-cita, kelak menjadi seorang CEO.

Dalam perjalanan hidup ia bertemu Bob, pilot pesawat tempur. Mereka menikah dan beranak pinak. Cita-cita menjadi perempuan karier yang cemerlang dirasa Kay makin pudar. Ia sibuk hamil dari tahun ke tahun dan mengandalkan satu pemasukan dari suami. Ibu 7 anak + 1 anjing itu lantas terlatih untuk menyiasati hidup tanpa menjadi pelit. Kay mengandalkan kupon diskon dan bisa sangat cermat membandingkan harga. Jika belanja USD150, misalnya, ia bisa menghemat hingga USD100 gara-gara kupon diskon. Wow!

Kay tidak meributkan mana yang lebih baik antara ibu bekerja kantoran vs ibu di rumah. Semua ibu ialah pekerja –saya sepakat-. Yang kemudian menarik dicermati ialah: jika ibu bekerja kantoran demi mendapatkan tambahan pemasukan untuk keluarga, apakah gaji yang ia dapatkan betul-betul bisa jadi tambahan? Atau hanya sedikit bersisa dari keperluan membayar asisten rumah tangga untuk jaga anak, bayar transportasi, bayar makan siang dan jajan serta beli baju untuk penampilan layak?

Bertahun-tahun berhemat membuat Kay jadi ahli. Makanya ia bisa banyak berbagi cara menyiasti hidup hemat ala Amerika. Kebanyakan, mengandalkan kupon diskon dan mencermati tawaran promo. Menjelang anak-anaknya besar, Kay mulai menulis dan membuat seminar-seminar tentang berhemat. Dan ternyata, itu dibutuhkan banyak orang Amerika. Nasihat Kay, rata-rata sangat praktis dan aplikatif. Ya begitulah, pada akhirnya ia tetap jadi CEO perusahannya sendiri, dari rumah, tanpa kehilangan momen pertumbuhan anak-anaknya. 🙂

Nice ya.  Kata dia, “Tuhan menjawab keinginan saya dengan cara yang lebih indah.”

 

 

Delusional yang merepotkan

Gara gara satu orang yang tak bisa menerima kenyataan dan mengalami delusional, aku jadi tak nyaman tinggal di negeriku sendiri. Menjelang siang, si bos yang WNA bilang, “Silahkan pulang jika Anda semua merasa khawatir dengan kondisi hari ini.”

Sebetulnya kantor kami berada jauh dari pusat keramaian hari ini. Setidaknya, kawasan monas dan gedung kantor di Kuningan berjarak sekitar 8 kilometer. Dan itu bisa dibilang jauh untuk jalanan kota yang sering macet.

Beberapa orang langsung angkat kaki. Lainnya merasa lebih aman tinggal di kantor.

Sebetulnya yang lebih panik, ialah orang-orang yang jauh dari kami. Maklum, penampakan di media televisi memang agak mengkhawatirkan. Sensitivitas awam dengan wartawan yang pernah di lapangan, tentu berbeda. Ibu temanku menelepon anaknya, meminta segera pulang. Ayah temanku yang lain juga begitu.

Suamiku yang masuk kerja siang dan beraktivitas di kawasan Pulo Gadung pun ikut ngomporin agar aku pulang cepat. Hahaha! Jadilah aku pulang cepat. Sambil berharap si kecil tidur siang, agar setidaknya aku bisa mengerjakan sesuatu dari to do list yang demikan panjang hari ini. 

Gara gara si mantan jenderal yang delusional, rencana kerjaku jadi butuh banyak penyesuaian. 

Berburu rumah di Kota Hujan

Sabtu lalu, saya ke Bogor. Bersama suami, kami mengenderai motor ke Bogor, demi punya waktu lebih banyak untuk melihat beberapa perumahan di sana. Berencana membeli rumah, tentu saja harus melihat-lihat, bukan?

Di waktu yang sama, ada pameran properti di JHCC. Tentu saja, lebih praktis jika ke pameran. Plus, biasanya ada promo-promo menggiurkan. Tapi, lebih puas jika langsung menilik lokasi. Sebab, bukan cuma rumah yang perlu dilihat. Yang terpenting ialah akses dan lingkungan sekitar.

Akses ke Jakarta, tentu saja penting, mengingat suami masih akan berkantor di area Pulogadung sampai 5 tahun ke depan. Lagipula, kebutuhan bertemu klien dan pekerjaan lainnya masih di Jakarta. Lalu, akses ke Bogor juga penting, mengingat Tirto akan sekolah dua tahun lagi.

Perumahan pertama yang kami kunjungi, Villa Bogor Indah. Perumahan besar dengan daya dukung lumayan komplit. Ruko, sekolah, tempat ibadah. Ada rumah dengan lokasi bagus ditawarkan kepada kami. Posisi hoek dengan kelebihan tanah tiga meter, di depan taman bermain anak-anak yang dilengkapi ayuna. Wah, Tirto pasti suka!

Tapi, saya enggak sreg dengan lingkungannya. Ruko-ruko dan beragam toko di depan cluster memang memudahkan. Tapi kok seperti semrawut ya. Mungkin ini cuma masalah selera, sih.

Harga yang ditawarkan sangat bersahabat, dengan tawaran diskon uang muka pula. Terkait akses, perumahan itu juga cuma berjarak tak sampai 2 kilometer menuju BORR dan sekitar 2 kilometer menuju jalanan utama Bogor, Jalan Pajajaran. Jalanan pun rusak. Mudah-mudahan enggak lama lagi dibereskan dan mulus.

Perumahan kedua yang kami sambangi ialah Rivella Park. Kantor Marketingnya di jalanan menuju Tajur, tapi lokasi perumahannya berdekatan dengan Rancamaya Estate. Istilahnya, Rancamaya Coret lah. Kompleknya enggak gede-gede amat dengan fasum standar. Desain rumah sudah lebih cantik ketimbang Villa Bogor Indah dan tanpa pagar. Harga lebih mahal ketimbang VBI tapi DP sangat ringan, bisa cuma 50 jutaan saja.

Kami keluar perumahan itu melalui jalanan utama komplek Rancamaya Estate. Lalu tak sengaja, iseng ke kantor pemasaran. Aih, tenyata ada toh yang masih masuk budget dengan luas tanah 162 m. Duh, mudah-mudahan berjodoh deh. Fasumnya oke. Perumahan enggak semrawut. Akses APTB sangat mudah, di depan kompleks. Pasar Ciawi cuma berjarak sekitar 1 kilometer dan 2 kilometer untuk masuk tol. Nilai plus Rancamaya ialah pemandangannya yang bikin adem mata. Semoga saja, kepenatan di Jakarta bisa terobati di rumah dengan lingkungan yang asri begitu. Untuk sekolahan, ada High Scope. haha, mahal sih. Tapi untuk TK, kayaknya bisa dicoba lah.

Keluar dari Rancamaya, aku merapal doa. Duh, jodohkan dengan rumah itu.

Asam urat dan gula darah

Seminggu terkahir, badan saya gak karu-karuan rasanya. Pasca pindah rumah, sempat masuk kantor satu hari, lalu izin sakit tiga hari. Penyebabnya: demam tinggi serta sekujur badan nyeri.

Dikira sudah beres, pas Sabtu badan berontak lagi. Sunguh sakit. Dibuat melangkah pun rasanya ogah. Swear, kayak nginjek batu refleksi yang tajam di Suropati. Akhirnya, cek darah.
Jreng!

Ketauan dah!
Gula darah meroket hingga 176. Batas normalnya? Maks 120.
Asam urat tercatat 8,3. Batas maksimal untuk itungan normal ialah 6 untuk perempuan.

Doh!

Sudah tiga bulan ini saya nyadar kok bakal naik gula darah berkat kebiasaan ngopi instan. Berat badan pun terus bertambah. Gara-gara asupan nasi selalu melimpah di rumah. Dan tau-tau, saya udah kelebihan 10 kilogram dari bobot normal.

Health-Benefits-of-Carrot-Juice
Solusinya?

Kembali ke alam dan percaya pada tubuh untuk memperbaiki diri. Pertama-tama, asupan vitamin C mesti dikencengin buat ngusir purin yang berlebih. Sembari food combining buat menyelaraskan kembali kebutuhan gula darah.

Bisa! Pasti bisa.

Bakal lebih sehat. Ilang segala asam urat gak penting ini. Dan gula darah kembali normal. Bonusnya: langsing.

 

So long, Cin..

Anjing saya mati pagi ini. Kata mertua, diracun orang, subuh.
Sempat melolong, berisik, lalu keok.

Tak cuma ia yang mati. Sapi’i, anjing 10 tahun milik keluarga di Yogya juga ikut tewas seketika. Apalagi gara-garanya, kalau bukan potas yang sengaja dijadikan campuran pakan.

Hm, gini rasanya ditinggal mati?
Anggaplah saya lebay. Tapi dua kaki ini seperti enggak napak pagi tadi. Sedih bukan kepalang. Pun marah. Tapi semua sudah terjadi, mau bilang apa? Kata Ibu, dua anjing yang tersisa -Toski dan Leci- segera dimandikan dan sementara masuk ke dalam rumah. Tak dibiarkan kelayapan di halaman luas itu, tanpa pengawasan.

Sejak Desember 2011, Cincin diungsikan ke Yogya. Bersama Toski dan Leci. Di sana, di rumah mertua, mereka punya ruang gerak leluasa. Dan terbukti, mereka cukup happy 🙂

Saat terakhir kali saya tengok lebaran tahun lalu, semuanya loncat-loncat gembira. Ah, para doggies itu…selalu bisa bikin tuannya bahagia. Tirto, yang waktu itu baru 1,5 tahun pun gembira di antara para anjing. Tak sedikitpun wajahnya memunculkan raut khawatir, apalagi takut. Dia memanggil semua anjing dengan benar, kecuali Sapi’i – Tirto memanggilnya Pei Pei.

Cincin bobok bareng Toski.

Cincin bobok bareng Toski.

Cincin ialah anjing pertama saya. Betina, suka bermanja, selalu waspada dan sensitif. Pernah suatu kali ia menangis. Ketika si Bapak memarahinya. “Nakal sih…gigit-gigit sandal.”

Sumpah. Baru kali itu saya lihat anjing menangis. Air mata menetes dari kedua matanya. Badannya pun bergetar hebat. Lalu Bapak memeluk. Dan Cincin tak sedih lagi.

Ah cin..

Dulu saat masih di Pesanggrahan, Jakarta, saya rajin membawa Cincin ke lapangan bola dekat rumah. Sejak kecil ia suka berlari-lari di sana. Kadang bermain bersama Buddy, anjing pemilik bengkel yang tak jauh dari situ. Kadang saya tinggal sebentar saat belanja ke pasar dekat lapangan itu. Lalu dengan satu kali panggilan, Cincin akan melihat saya dan lari sekencang-kencangnya. Ah! Whatta wonderful feeling. A dog can make us so important! And its feel good 🙂

Cincin-What

Lalu ia makin besar. Bisa salaman. Bisa duduk kalau disuruh.

Lalu punya anak. Lalu melahirkan dengan tenang. Dan saya pun bersemangat untuk melahirkan juga dalam tenang, dalam diam. Jauh dari kehebohan prosedural medis. Makasih ya Cin, sudah mengingatkan pentingnya selaras dengan alam.

Tiap kami mau pergi ke luar kota, Cincin dan Toski masuk penitipan. Bawa pake motor, digendong. Lalu dijemput lagi saat kami sudah kembali pulang.

Begitulah. Dan sampai di sini umurnya. Belum genap empat tahun.

Cincin-Bye

Pi'i-Bye

Selamat jalan ya Cin, Pi’i. Be happy there. We alway miss you.

Bisa beli rumah dalam 5 tahun? Bisa!

Li Ka-Shing

Li Ka-Shing

Hari ini, teman kantor bagi link menarik di Yahoo News. Artikel tentang Li Ka Shing, bilioner Hong Kong berbagi pemikiran menarik tentang hidup berkembang tapi tetap sesuai kebutuhan. Ini katanya:

Berapapun pendapatan Anda, sebisa mungkin bagilah ke dalam 5 pos.  Pos yang pertama, sekitar 30% bisa untuk biaya hidup sehari-hari. Ketimbang beli macem-macem, banyak-banyak makan sayur. Kalau masih muda, badan masih oke lah. 

Jadi, 30% ini bisa dipakai buat makan, nge-kost, nyicil motor, apapun itu yang tergolong living expenses. Kalau gaji 5 juta di Jakarta, berarti 30%-nya cuma Rp1,5 juta. Hm, kalau nge-kost ya berat..apa lagi di tengah kota. Pilihannya ialah nge-kost deket kantor dengan budget maksimal Rp900 ribu, jalan kaki ke kantor, dan makan 600 ribu sebulan. Wah, prihatin. Kalau masak sendiri sih bisa. Beli nasi di warung makan padang. Beli telor 1/2 kg buat seminggu. Beli lalapan dan sambel botol. Pasti cukup. #pernahngalamin

Hahaha.

Nah, yang masih tinggal di rumah ortu, lumayan lah. Masih bisa napas. Budget bisa dipakai buat ongkos transportasi, atau bisa nyicil motor Rp700 ribu per bulan. Sisanya buat bensin dan parkir.

Pos ke-2, 20%. Gunakan untuk memperluas jaringan. Beli pulsa buat kontak temen (termasuk buat internetan, facebook-an), buat jaringan baru, dan jangan segan buat traktir makan teman. 

WHATTTTT? Gue disuruh hidup prihatin, tapi malah harus ada budget buat traktir orang lain? 

Menurut Li Ka Shing, enggak sembarang orang yang kita traktir. Pilih yang lebih pinter, lebih kaya, lebih punya banyak ide, ketimbang kita. Lakukan tiap bulan (bisa ke orang yang berbeda). Setelah satu tahun, jaringan ini akan makin meluas dan imej kita juga jadi sangat baik.

Jadi, kalau gaji Rp5 juta, alokasi pos ini ialah Rp1 juta. Buat pulsa telepon dan internet Rp200 ribu. Sisanya Rp800 ribu. Bisa tuh buat traktir 4 orang: 1x seminggu, budget @200 ribu. Atau bisa juga traktir 3 orang lalu beli hadiah buat teman yang punya momen spesial.

 

Pos ke-3 sebesar  15%. Gunakan untuk perkembangan intelektual: beli buku dan ikut seminar. Pilih yang bermutu. Pelajari baik-baik lalu ceritakan kembali dengan bahasa kita sendiri. Sharing ke orang-orang. Ini bisa naikin kredibilitas kita. Jangan lupa sisihkan untuk nabung ikutan seminar yang berkualitas. Selain dapat ilmunya, otomatis dapat jaringan baru.

Jadi, kalau gaji Rp5 juta maka alokasi untuk pos ini ialah Rp750 ribu. Pilah pilih buku, budget Rp300 ribu. Sisanya tabung buat ikutan seminar. Atau cari seminar gratisan juga lumayan kok. Asal bisa pilih yang bagus.  Jaringan baru pasti dapet, lah.

 

Pos ke-4 sebesar 10%, gunakan buat nabung buat jalan-jalan ke luar negeri. Ini bakal jadi ‘hadiah’ sekaligus nambah pengalaman. Selama lima tahun, pasti udah lebih banyak negara yang bisa dikunjungi. 

Oke, ini artinya nabung Rp500 ribu per bulan. Setahun bisa dapat Rp6 juta. Masuk akal sih. Duit segitu lumayan bisa ke negara-negara di Asia Tenggara, seperti Singapura atau Malaysia. Bisa juga agak jauhan, ke Hong Kong, Macau, atau bisa kok sampai Khatmandu juga. Bisa coba tabungan terencana kalo gitu, ya. Biar enggak gatel mau narik sebelum waktunya.

 

Pos ke-5 sebesar 25% gunakan untuk modal bisnis. Jualan kecil-kecilan. Ini risiko kecil, jadi tergolong aman. Kalau berhasil, ini bisa naikin percaya diri. 

Nah, ini menarik. Jika gaji Rp5 juta, maka alokasi modal bisnis ialah Rp1.250.000. Li Ka-Shing menyarankan modal ini bisa buat beli produk grosiran, lalu jual eceran. Kalau untung, bikin pede. Kalau rugi, anggaplah ongkos belajar bisnis.

Kalau saya, otomatis mikir ikut MLM. Modal relatif kecil, ada training-training pengembangan diri, dan lingkungan orang-orang yang penuh motivasi. Hehehe.

Then, kalau udah ngelakuin ini selama satu tahun secara konsisten, tapi pendapatan tetep sama, artinya kita tidak berkembang. Disitu-situ aja. Kata Li Ka-Shing, “You should be really ashamed of yourself. Do yourself a favour and go to the supermarket and buy the hardest tofu. Take it and smash it on your head because you deserve that.”

hahaha. Agree!

Li Ka-Shing juga menyarankan part time- sales. Iya, jadi sales. Jualan.

Doing sales is challenging, but it is the fastest way for you to acquire the art of selling and this is a very deep skill that you will be able to carry it for the rest of your career. All successful entrepreneurs are good sales people.

Bener. Kerjaan yang bikin malesin itu jadi sales. Gengsi, soalnya. Sales dianggap hina. Dulu waktu saya pertama kali ikutan MLM Oriflame pun sama. Gengsi. Ahaha.

No matter how much you earn, always remember to divide it into five parts proportionately. Always make yourself useful. Increase your investment in networking. When you increase your social investment, expand your network of contacts, your income also grows proportionately. Increase your investment in learning, strengthen your self confidence, increase investment in holidays, expand your horizons and increase investment in the future, and that will ultimately increase your income.

Maintain this balance and gradually you will begin to have a lot of surplus. This is a virtuous circle of life plans. Your body will start to get better and better as you get more nutrition and care. Friends will be aplenty and you will start to make more valuable connections at the same time. You will then have the conditions to participate in very high-end training and eventually you’ll be exposed to bigger projects, bigger opportunities. Soon, you will be able to gradually realize your various dreams, the need to buy your own house, car, and to prepare an adequate education fund for your child’s future.

Life can be designed. Career can be planned. Happiness can be prepared. You should start planning now. When you are poor, spend less time at home and more time outside. When you are rich, stay at home more and less outside. This is the art of living. When you are poor, spend money on others. When you’re rich, spend money on yourself. Many people are doing the opposite.

When you are poor, be good to others. Don’t be calculative. When you are rich, you must learn to let others be good to you. You have to learn to be good to yourself better. When you are poor, you have to throw yourself out in the open and let people make good use of you. When you are rich, you have to conserve yourself well and don’t let people easily make use of you. These are the intricate ways of life that many people don’t understand.

Woaaa… petuah yang selalu akan saya baca, baca dan baca lagi biar nempel di kepala dan bisa selalu ingat. 🙂

Oke, tidak ada waktu terlambat buat memulai cara ini. Kelak, saat Tirto Adhi beranjak besar, pasti akan saya ajari 5 pos penghasilan saat dia baru menerima penghasilan pertamanya. 🙂

Bahan tulisan diambil dari sini.

Jadwal ujian AAJI udah keluar. Yay!

Akhirnyaaaaa…. jadwal ujian AAJI udah keluar. Sabtu ini. Wew, kenapa sih seneng beut?
Ya iya. Sebab dengan ujian ini, jika lulus, maka saya bakal punya izin resmi  buat menjual asuransi.

Ujiannya sih online, diselenggarakan di Allianz Tower. Tadi sekretaris kantor udah kasi bahan ujian, ada di CD. “Itu udah lengkap kok Mbak, semua ada. Baca saja ya.”

Hm, udah lama ga ujian gini. Haha. Terakhir kali tuh ujian apa ya?
Sidang master kali, ya? Itu juga udah lama banget. 2009.

Sebelum 2009 malah lebih sering ujian ini itu. Yang saya ingat, makin tua, mau ujian apa aja tuh makin enggak nervous. Beda lah sama zaman sekolah dulu. Suka deg-degan. Apalagi pas mau ujian masuk perguruan tinggi. UMPTN. (wew, ketauan ya angkatan saya. hihihi)

Tapi kali ini, saya malah ngejar-ngejar jadwal ujian. Seneng aja gitu. Lagian, bulan ini ada challenges. Bisa submit 7 case pada Jan-Feb, maka perhitungan ALP dikalikan 150%. Hihi.. apa itu ALP? Ntar dijelasin di blog saya satu lagi. 😀 Intinya sih, perhitungan ini akan terpakai dan bermanfaat sekali untuk perhitungan bonus jalan-jalan ke luar negeri.

Okeh, nanti cerita lagi setelah ujian yaks.

 

Balada pengontrak tahunan

Namanya belum punya rumah tinggal sendiri, pastilah mengandalkan kontrakan. Apalagi masih bekerja, masih butuh rumah dekat dengan kantor. Butuh ada di tengah kota. Kalau beli sendiri, belum sanggup. Kalau ngontrak, masih bisa lah.

Sudah setahun ini kami mengontrak di sekitaran Palbatu, Menteng Dalam, Tebet. Dekat dengan Mal Kota Kasablanka, dan yang terpenting, dekat dengan kantor di bilangan Rasuna. Hitung-hitung, jarak rumah ke kantor tak lebih dari dua kilometer. Beberapa teman dan kerabat komentar, “Sayang uangnya buat kontrakan. Kan bisa buat tambah-tambah DP rumah sendiri.”

Tapi rumah sendiri di bagian Jakarta yang mana? Sungguh, belum sanggup punya rumah di area suburban yang memang sudah tinggi juga harganya. Bayangan kami, kalau nanti sudah mandiri tak lagi jadi pegawai, barulah kami melipir ke pinggiran kota.

Jadi, paling tidak sampai dua tahun lagi, kami masih akan memilih area tinggal di tengah kota. Dan berniat memperpanjang masa kontrakan di rumah yang kami tempati saat ini.

Tapi si empunya rumah enggak kasih. “Maaf, anak saya mau pindah ke rumah itu. Jadi tidak bisa diperpanjang,” katanya saat saya melontarkan niat.

Waduh. Blaik.

Dibujuk-bujuk, tetep enggak bisa.

Dinaikin harga kontrakan, tetep enggak bersedia.

Ya sudahlah, nyerah. Mulai awal Februari, setiap weekend saya dan suami keliling Palbatu buat cari rumah kontrakan baru. Ada yang di gang… aduh, enggak deh. Susah pindahannya. Plus, saya sungguh enggak suka ada got terbuka yang jorok gitu. Plus lembap. Erghh…

Masih ngontrak aja, banyak bener maunya ya…. :p

Lalu ada lagi. Satu rumah. Descent. Dengan tempat parkir mobil. “Itu ada 2 kamar, 40 juta setahun. Pas, enggak bisa turun,” kata seorang laki-laki saat saya menelepon no hp yang terpampang dekat pagar. Judes.

Cari lagi…

Cari..

Cari..

Si Bapak udah mulai panik. Hampir dua minggu lagi mesti pindahan dan belum ada tujuan. Saya lebih santai. Diantara kami berdua, otak saya bekerja di area optimis yang kadang-kadang berlebihan. Hahaha.

Tapi saya tau, kalau saya yakin, pasti dapat. Resep yakin ini udah teruji berkali-kali. Minta lah pada Tuhan, lalu percepat dengan bertindak dan berbagi ke banyak orang. Pasti dapat. Istilahnya, mestakung. Alam semesta mendukung. 😀

Dan benar!

Sore itu saya niat banget nemenin si Bapak beli jus belimbing. Lalu pulang melewati jalur yang biasa kami lewati sambil pasang mata di sisi kiri. Tuh kan.. rumah yang sudah saya incer dan lihat bolak balik kini dipasangi kertas putih bertuliskan DIKONTRAKKAN.

Ahaha! Nggak pakai lama, langsung telepon. Lalu lihat. Lalu bayar DP. Totalnya 41 juta untuk dua tahun. Yay!

INFO SINGKAT:

Di sekitaran Palbatu, banyak rumah dikontrakkan tahunan atau bulanan. Kalau rumah dua kamar biasanya tahunan. Di dalam gang, range harga antara 15-20 juta. Di tepi jalan, tergantung ukuran. Makin besar, makin descent penampakannya, makin mahal. Ukuran 36meter persegi dengan loteng untuk jemuran baju, biasanya bisa di dapat mulai Rp20an juta. Lebih besar, ya lebih mahal. Mulai 30an juta. Rata-rata maksimal 50 juta dengan 5 kamar.

Untuk peminat kontrak bulanan, biasanya ya rumah petak gitu. Satu kamar tidur, dapur, kamar mandi dan ruang tamu. Rata-rata mulai dari Rp1,5 jutaan per bulan. Nah, biaya kos, umumnya lebih mahal. Mulai Rp1,5 juta hanya satu kamar ukuran 3×3.